Lompat ke konten utama
Epistemologi Knowledge Management11 menit baca

Polycrisis: Ketika Semua Krisis Datang Bersamaan dan Saling Memperburuk

Krisis-krisis yang datang bersamaan saling memperkuat dan memperburuk satu sama lain, mengapa organisasi butuh kapasitas berpikir lintas sektor untuk bertahan.

Ferry Edwin Sirait

Polycrisis: Ketika Semua Krisis Datang Bersamaan dan Saling Memperburuk

Mengapa Organisasi yang Tidak Mengelola Pengetahuan Secara Strategis Akan Menjadi Korban Pertama dari Dunia yang Saling Terkoneksi dalam Kehancurannya

Pembukaan: Dunia yang Tidak Bisa Lagi Dipahami Secara Parsial

Kita hidup di sebuah era di mana krisis tidak lagi datang satu per satu, menunggu giliran untuk diselesaikan. Krisis iklim tidak berdiri sendiri tanpa terhubung dengan krisis pangan. Krisis pangan tidak bisa dibaca tanpa memahami krisis rantai pasok global. Krisis rantai pasok tidak dapat diurai tanpa menyentuh krisis geopolitik. Dan krisis geopolitik, pada gilirannya, memperparah krisis energi yang memperdalam ketimpangan sosial, yang kemudian memicu krisis kepercayaan terhadap institusi. Krisis kepercayaan ini bahkan menjalar sampai ke pengetahuan itu sendiri.

Inilah yang disebut oleh para pemikir kompleksitas kontemporer sebagai polycrisis: bukan sekadar banyaknya krisis yang terjadi secara simultan, melainkan kondisi di mana setiap krisis berinteraksi dengan krisis lainnya, saling memperkuat, saling memperburuk, dan menciptakan dinamika baru yang tidak bisa diprediksi dari masing-masing krisis secara terpisah.

A polycrisis is not merely a cluster of simultaneous crises. It is a situation where the interaction between crises makes the overall situation significantly worse than the sum of each crisis considered in isolation.
— Cascade Institute, 2022

Pertanyaan yang harus kita ajukan bukan lagi ‘krisis apa yang sedang terjadi,’ melainkan bagaimana organisasi kita, apa pun sektor yang digelutinya, mampu memahami keterhubungan antar krisis ini. Apakah cara kita mengelola pengetahuan sudah memadai untuk menghadapi dunia yang bekerja seperti ini?

Anatomi Polycrisis: Lebih dari Sekadar ‘Banyak Masalah’

Istilah polycrisis mulai mendapat perhatian luas setelah World Economic Forum Global Risks Report 2023 mengadopsinya sebagai kerangka utama. Namun akar intelektualnya jauh lebih dalam. Edgar Morin, filsuf kompleksitas Prancis, sudah memperingatkan sejak dekade 1970-an tentang bahaya berpikir dalam kotak-kotak terpisah ketika realitas bekerja secara saling terhubung. Morin menyebutnya sebagai ‘krisis kognisi.’ Yang ia maksud adalah ketidakmampuan institusi modern untuk berpikir secara kompleks, padahal dunia yang mereka hadapi kian kompleks.

Untuk memahami polycrisis, bayangkan perbedaan antara sebuah mesin dan sebuah ekosistem. Mesin bersifat linier: jika satu komponen rusak, kita ganti, dan mesin kembali berjalan. Ekosistem bersifat non-linier: jika satu spesies menghilang, dampaknya menjalar ke seluruh rantai makanan dengan cara yang sering kali tidak terduga. Dunia hari ini lebih menyerupai ekosistem yang terganggu daripada mesin yang perlu diperbaiki. Tetapi sebagian besar organisasi masih mengelola pengetahuan mereka seolah-olah dunia adalah mesin.

Tiga Karakteristik Pembeda Polycrisis

Pertama, ada apa yang disebut sebagai interaksi kausal non-linier. Dalam polycrisis, krisis A tidak hanya menyebabkan krisis B. Keduanya saling memperkuat dalam siklus umpan balik positif yang terus mengamplifikasi dampak. Perubahan iklim menyebabkan gagal panen, yang memicu migrasi massal, yang menciptakan tekanan politik di negara tujuan, yang menghasilkan kebijakan isolasionis, yang melemahkan kerja sama internasional untuk mengatasi perubahan iklim. Siklus ini tidak memiliki titik awal atau akhir yang jelas karena pada dasarnya ia adalah sebuah loop.

Kedua, polycrisis menunjukkan sifat emergent. Interaksi antar krisis menghasilkan fenomena baru yang tidak bisa diprediksi dari analisis masing-masing krisis secara individual. Krisis kesehatan global COVID-19, misalnya, bukan sekadar krisis epidemiologi. Ia berinteraksi dengan krisis ketimpangan yang sudah ada sebelumnya, menghasilkan fenomena emergent berupa percepatan disinformasi kesehatan yang tidak pernah terjadi pada skala seperti itu sebelumnya. Baik epidemiologi, ekonomi, maupun ilmu komunikasi, tidak satu pun disiplin ini bisa menjelaskan fenomena tersebut secara utuh. Hanya analisis yang mampu melintas batas sektor yang bisa memahaminya.

Ketiga, polycrisis memperlihatkan apa yang dalam teori sistem disebut sebagai cascading failure, atau kegagalan beruntun. Seperti domino yang jatuh, tetapi dengan perbedaan kritis: setiap domino yang jatuh membuat domino berikutnya menjadi lebih besar dan lebih berat. Kegagalan satu bank pada 2008 tidak hanya menjatuhkan bank lain. Ia menghancurkan kepercayaan terhadap seluruh sistem keuangan, yang memicu resesi global, yang menciptakan frustrasi politik yang dampaknya masih kita rasakan dua dekade kemudian dalam bentuk polarisasi dan populisme.

Mengapa Organisasi Gagal Membaca Polycrisis: Problem Epistemologis

Di sinilah kita menemui masalah yang sebenarnya bukan masalah teknis, melainkan masalah epistemologis, yaitu masalah tentang bagaimana kita mengetahui apa yang kita ketahui. Sebagian besar organisasi, baik korporasi, lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil, maupun institusi akademik, dibangun di atas asumsi bahwa masalah bisa dipecah menjadi bagian-bagian kecil dan ditangani oleh unit-unit spesialis.

Asumsi ini berasal dari paradigma Cartesian yang mendominasi pemikiran Barat sejak abad ke-17: untuk memahami sesuatu yang kompleks, pecahlah menjadi bagian-bagian sederhana dan pahami masing-masing. Pendekatan ini luar biasa berhasil untuk membangun mesin uap dan menerbangkan manusia ke bulan. Tetapi ia gagal total ketika menghadapi sistem adaptif kompleks, yaitu sistem di mana perilaku keseluruhan tidak bisa direduksi menjadi jumlah dari bagian-bagiannya.

Kita tidak bisa menyelesaikan masalah dengan menggunakan cara berpikir yang sama yang menciptakan masalah tersebut.
— Albert Einstein (atribusi populer)

Dalam praktik organisasi, fragmentasi epistemologis ini mengambil bentuk yang sangat konkret. Divisi riset tidak berbicara dengan divisi advokasi. Tim program di satu wilayah menyimpan pembelajaran yang tidak pernah sampai ke tim di wilayah lain. Data keuangan tidak pernah dianalisis bersama-sama dengan data dampak sosial. Setiap departemen memiliki ‘pengetahuan’-nya sendiri, tersimpan dalam silo yang saling terisolasi. Organisasi memiliki banyak data, tetapi tidak memiliki pengetahuan yang saling terhubung.

Kondisi ini saya sebut sebagai knowledge fragmentation syndrome. Ini adalah patologi organisasi di mana pengetahuan yang dimiliki secara kolektif jauh lebih kaya daripada apa yang mampu diakses dan digunakan oleh pengambil keputusan pada saat dibutuhkan. Dalam konteks polycrisis, sindrom ini bukan sekadar inefisiensi, melainkan kerentanan eksistensial.

Ilusi Spesialisasi dalam Dunia yang Saling Terhubung

Mari kita periksa satu contoh. Sebuah perusahaan manufaktur yang menghadapi gangguan rantai pasok akibat konflik geopolitik mungkin memperlakukan ini sebagai masalah logistik semata. Departemen supply chain bekerja keras mencari pemasok alternatif. Sementara itu, departemen HR tidak menyadari bahwa karyawan mereka di wilayah tertentu mengalami tekanan psikologis akibat situasi geopolitik yang sama. Departemen komunikasi tidak mengantisipasi bagaimana narasi media tentang konflik tersebut mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk mereka. Dan departemen strategi tidak menghubungkan semua titik ini untuk memahami bahwa yang mereka hadapi bukan masalah rantai pasok, melainkan manifestasi lokal dari polycrisis global.

Pola yang sama terjadi di lembaga pemerintah. Kementerian pertanian menghadapi krisis produktivitas tanpa berkonsultasi dengan kementerian lingkungan yang memiliki data tentang degradasi lahan. Kementerian kesehatan menangani lonjakan penyakit pernapasan tanpa melihat data polusi dari kementerian perindustrian. Setiap kementerian menjadi ahli di domainnya sendiri, tetapi tidak ada mekanisme yang menghubungkan pengetahuan lintas domain secara sistematis.

Di sektor akademik, fragmentasi ini bahkan lebih ironis. Universitas seharusnya menjadi tempat integrasi pengetahuan. Namun kenyataannya, ia justru menjadi benteng spesialisasi yang paling kokoh. Departemen ekonomi memproduksi analisis cemerlang tentang inflasi tanpa satu pun referensi ke penelitian psikologi sosial tentang bagaimana ketidakpastian ekonomi mempengaruhi radikalisasi politik. Departemen ilmu komputer mengembangkan model AI tanpa dialog yang memadai dengan departemen etika atau sosiologi.

Bagi organisasi masyarakat sipil dan lembaga riset, tantangannya tidak kalah fundamental. Ketika sebuah organisasi yang bekerja di isu lingkungan tidak mampu melihat bagaimana isu mereka terhubung dengan isu hak tanah, hak digital, kesehatan publik, dan tata kelola data, organisasi tersebut bukan hanya kehilangan gambaran utuh tentang masalah yang mereka hadapi, tetapi juga kehilangan kekuatan argumentasi dan relevansi strategis.

Peta graf pengetahuan: Polycrisis dibentuk oleh Interaksi Non-linier dan Cascading Failure, melahirkan Knowledge Fragmentation Syndrome yang butuh Analisis Intersektoral dan Sense-Making Kolektif.

Knowledge Management sebagai Infrastruktur Berpikir Sistemik

Di sinilah letak peran Knowledge Management yang sejati, bukan yang performatif. Ia bukan lagi sekadar soal efisiensi operasional, melainkan soal kelangsungan hidup organisasi dalam lanskap polycrisis. Knowledge Management yang sesungguhnya bukan tentang membuat database dokumen yang lebih rapi atau memasang software manajemen proyek yang lebih canggih. Ia adalah tentang membangun kapasitas epistemologis organisasi: kemampuan untuk mengetahui, memverifikasi, menghubungkan, dan menggunakan pengetahuan secara strategis.

Pemikiran Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi tentang knowledge creation menjadi relevan di sini. Model SECI mereka (Socialization, Externalization, Combination, Internalization) menggambarkan bagaimana pengetahuan tacit (yang tersimpan dalam pengalaman dan intuisi individu) dan pengetahuan eksplisit (yang sudah terdokumentasi dan terstruktur) saling bertransformasi. Dalam konteks polycrisis, proses ini tidak bisa dibatasi dalam satu departemen atau satu sektor. Ia harus melintas berbagai batas, mulai dari batas divisional, batas sektoral, hingga batas disipliner.

Empat Kapasitas KM yang Dibutuhkan di Era Polycrisis

Kapasitas pertama adalah analisis intersektoral. Ini adalah kemampuan untuk membaca bagaimana isu di satu sektor terhubung dan mempengaruhi isu di sektor lain. Ini bukan sekadar ‘kolaborasi lintas divisi’ yang sering menjadi jargon kosong dalam banyak organisasi. Ini adalah kapasitas analitik yang membutuhkan kerangka kerja dan metodologi, tetapi yang paling penting, ia membutuhkan budaya organisasi yang menghargai pengetahuan yang melintas batas.

Kapasitas kedua adalah sense-making kolektif, yakni kemampuan organisasi untuk secara bersama-sama memaknai informasi yang ambigu, kontradiktif, dan terus berubah. Dalam dunia polycrisis, tidak ada satu orang pun yang memiliki gambaran utuh. Makna harus dikonstruksi secara kolektif melalui proses deliberatif yang terstruktur. Knowledge Management menyediakan mekanisme untuk ini: After Action Review, knowledge café, komunitas praktik lintas fungsi, dan proses refleksi sistematis lainnya.

Kapasitas ketiga adalah institutional memory yang hidup, bukan arsip mati yang tidak pernah dibuka, melainkan repositori pengetahuan yang terus diperbarui, ditautkan silang, dan diakses secara aktif untuk pengambilan keputusan. Organisasi yang kehilangan memori institusionalnya akan terus mengulangi kesalahan yang sama, terus menemukan kembali apa yang sudah pernah diketahui, dan terus gagal membangun di atas fondasi pengetahuan yang sudah ada.

Kapasitas keempat adalah sintesis untuk pengambilan keputusan. Ini adalah kemampuan untuk mengubah tumpukan data, informasi, dan pengetahuan dari berbagai sumber menjadi rekomendasi yang actionable. Di era polycrisis, pengambil keputusan tidak kekurangan informasi; justru sebaliknya, mereka tenggelam di dalamnya. Yang mereka butuhkan adalah sintesis yang menghubungkan titik-titik dari berbagai domain, mengidentifikasi pola dan leverage points, dan menyajikannya dalam format yang bisa ditindaklanjuti.

Pelajaran dari Kegagalan dan Keberhasilan

Sejarah tidak kekurangan contoh tentang organisasi yang hancur karena gagal mengelola pengetahuan lintas sektor. Nokia, raksasa telekomunikasi yang pernah menguasai lebih dari 40% pasar ponsel global, tidak jatuh karena kekurangan insinyur brilian. Mereka jatuh karena pengetahuan tentang perubahan perilaku konsumen yang dimiliki tim pemasaran tidak pernah terintegrasi dengan pengambilan keputusan di tim engineering. Mereka tahu pasar berubah. Mereka tahu smartphone akan mendominasi. Tetapi pengetahuan itu terjebak dalam silo yang tidak bisa saling berkomunikasi cukup cepat untuk menghasilkan respons strategis.

Sebaliknya, pertimbangkan komunitas open-source intelligence, seperti jaringan investigator digital yang menyelidiki jatuhnya pesawat MH17 di Ukraina. Komunitas semacam ini berhasil memecahkan teka-teki yang tidak mampu dipecahkan oleh badan intelijen mana pun secara sendiri. Mereka berhasil bukan karena memiliki sumber daya yang lebih besar, melainkan karena membangun ekosistem pengetahuan yang memungkinkan berbagai disiplin, seperti analisis citra satelit, verifikasi metadata digital, rekonstruksi kronologi, dan analisis media sosial, untuk saling terhubung dan saling memverifikasi. Mereka mempraktikkan Knowledge Management lintas sektor pada tingkat yang paling radikal.

Apa yang membedakan organisasi yang selamat dari polycrisis bukanlah besarnya sumber daya, melainkan kualitas koneksi antar pengetahuan yang mereka miliki.

Dari Diagnosis ke Tindakan: Knowledge Management sebagai Keharusan Strategis

Jika diagnosis di atas terasa mengganggu, memang seharusnya demikian. Polycrisis bukanlah skenario masa depan. Ia adalah kondisi masa kini. Dan ia memperburuk diri setiap hari, setiap kali satu krisis berinteraksi dengan krisis lain yang tidak kita antisipasi karena kita terlalu sibuk menangani masing-masing secara terpisah.

Kabar baiknya: ada jalan keluar. Bukan jalan keluar yang sederhana atau cepat, tetapi jalan keluar yang telah dibuktikan oleh organisasi-organisasi paling adaptif di dunia. Jalan keluar itu dimulai dari pengakuan bahwa pengetahuan adalah aset strategis yang paling berharga, dan bahwa pengelolaannya membutuhkan pendekatan yang seserius pengelolaan keuangan, sumber daya manusia, atau infrastruktur teknologi.

Knowledge Management yang dirancang untuk era polycrisis bukan soal membeli software baru. Ia adalah tentang membangun arsitektur berpikir organisasi yang mampu mendeteksi koneksi tersembunyi antar isu, memfasilitasi pembelajaran lintas batas, menjaga memori institusional tetap hidup dan relevan, serta mensintesis pengetahuan dari berbagai sumber menjadi basis pengambilan keputusan yang lebih tajam.

Artikel ini adalah yang pertama dari seri lima tulisan yang akan membedah mengapa Knowledge Management bukan lagi kemewahan organisasional, melainkan keharusan eksistensial. Dalam artikel-artikel berikutnya, kita akan memeriksa bagaimana mesin fragmentasi digital, kekacauan informasi, disrupsi kecerdasan buatan, dan krisis demokrasi masing-masing menuntut sekaligus dimungkinkan oleh pengelolaan pengetahuan yang lebih cerdas, lebih terhubung, dan lebih strategis.

Penutup: Sebuah Undangan untuk Berpikir Berbeda

Ada sebuah analogi yang sering saya gunakan. Bayangkan Anda berdiri di tengah sebuah hutan yang lebat. Setiap pohon mewakili satu isu, entah itu iklim, pangan, energi, kesehatan, teknologi, atau demokrasi. Jika Anda hanya menatap satu pohon, Anda mungkin ahli tentang pohon itu. Tetapi Anda tidak akan pernah memahami hutan. Dan yang sedang mengancam kita bukan satu pohon yang tumbang, melainkan kebakaran hutan. Untuk memahami kebakaran, Anda perlu memahami angin, kelembaban, kekeringan, topografi, dan bagaimana semuanya berinteraksi.

Knowledge Management adalah ilmu dan seni untuk memahami hutan, bukan hanya pohon. Dan di era polycrisis, memahami hutan bukan lagi pilihan. Ia adalah prasyarat untuk bertindak secara bermakna.

Pertanyaannya sekarang bukan apakah organisasi Anda membutuhkan Knowledge Management. Pertanyaannya adalah: apakah Anda bisa bertahan tanpanya?

Bacaan terkait

Model SECI: Memahami Siklus SECI Nonaka dari Sosialisasi sampai Internalisasi
Epistemologi Knowledge Management7 menit baca

Model SECI: Memahami Siklus SECI Nonaka dari Sosialisasi sampai Internalisasi

Model SECI menjelaskan bagaimana pengetahuan tasit dan eksplisit saling berputar di dalam organisasi, dari sosialisasi hingga internalisasi. Artikel ini membedah keempat tahap tersebut lewat contoh kasus lapangan, menjelaskan mengapa siklusnya berbentuk spiral bukan lingkaran, dan menunjukkan di mana model ini punya batas.

Baca